Direksi Arminareka Perdana

Ir. Hj. Darnelly Guril, Msc.

Perempuan kelahiran Padang, 28 Januari 1958 ini, awalnya adalah dosen di Universitas Negeri Jambi sejak tahun 1983. Pada tahun 1989 beliau merantau ke Jakarta mengikuti jejak suaminya, Guril Muzzakar, yang bekerja di sebuah perusahaan minuman ternama. Di Jakarta, kiprah Darnelly di bidang pendidikan tak surut. Ia kembali mengajar di Fakultas Nasional.

Atas ajakan tetangga pada awal 1990, ia mulai merintis bisnis di bidang perjalanan haji dan umroh bernama Arminareka Perdana. Perjuangan membangun perusahaan itupun tidaklah mudah. Di tengah kompetisi perusahan serupa yang ketat, ia mulai menjajakan jasa perjalanannya dengan metode konvensional. ”Ketika itu, untuk mencari calon jama’ah, saya harus jemput bola. Dengan memakai kendaraan umum saya mondar-mandir kesana kemari. Hasilnya tak selalu baik juga, banyak yang menolak”, kisah Direksi Arminareka Perdana ini.

Namun, Darnelly Guril dan suami tak mudah menyerah. Demi keinginannya untuk meraih ridho Alloh SWT, ia terus berjuang. Di tahun pertama berhasil membawa 8 jama’ah ke tanah suci. Baginya 8 jama’ah ini merupakan embrio kesuksesan masa depan. Sayang, sebelum mimpi itu terwujud, sang suami tercinta dipanggil Yang Kuasa pada tahun 2003. Bagi salah satu direksi Arminareka Perdana ini, kepergian suaminya merupakan pukulan yang sangat berat. Namun ia tak mau larut dalam kepedihan. Ia bertekad untuk tetap melanjutkan bisnis ini.

 

Tahun 2008 babak baru dalam bisnisnya mulai terjadi. Sejak 13 Mei 2008 ia dan tiga rekannya melakukan inovasi cerdas dalam bisnisnya. Ia bergeser dari sistem penjualan profesional ke konsep sistematis, dengan menjadikan jama’ah sebagai mitra perusahaan.

Hasilnya mengejutkan. Dari yang semula setiap tahunnya Travel Haji dan Umroh PT Arminareka Perdana hanya mampu memberangkatkan jamaah tidak lebih dari 600 orang. Saat ini setiap bulannya PT Arminareka Perdana mampu memberangkatkan jama’ah Umroh sekitar 5000 jama’ah dan menjadi yang terbesar di Indonesia.

Bisnis biro perjalanan haji dan Umroh memang menyimpan potensi yang luar biasa. Ibu Darnelli Guril merupakan salah direksi arminareka perdana yang jeli melihat peluang usaha tersebut. Para jamaah yang tergabung di dalamnya selain dapat melaksanakan ibadah Umrah maupun Haji, mereka juga dapat sambil bekerja untuk meningkatkan taraf hidupnya.

“Jadi apa salahnya jika beribadah sambil bekerja dapat dikerjakan secara berinergi?” demikian direksi arminareka perdana berpendapat.

Dra. Hj. Yusnidar

MENGENAL MARKETING REVOLOTION ALA ARMINAREKA PERDANA

Bertemu dengan sosok yang satu ini membuat kita merasa ‘bukan orang lain’. Biarpun barusaja  berkenalan, Ibu yusnidar mampu membuat kita merasa sedang bercakap-cakap dengan seorang kenalan lama, atau seorang mentor yang siap membantu kapan saja. Bu Yus, demikian panggilan akrabnya, adalah salah satu direksi arminareka perdana yang memang hangat dan ramah. Tapi lebih dari itu, passion dan antusiasmenya saat membicarakan spirit pemberdayaan umat yang ditawarkan oleh arminareka Perdana, membuat kita semua termotivasi untuk sukses.

Jabatan resmi Bu Yus adalah sebagai Direktur Operasional PT. Arminareka Perdana. Beliahlah sosok dibalik keberhasilan Arminareka dalam memberikan pelayanan terbaik bagi jamaah meskipun jumlah jamaahnya yang diberangkatkan berjumlah empat ribuan setiap bulannya.beliau juga sangat menguasai konsep marketing ARP, yang terbukti dapat menjadikan organisasi ini berubah dari travel umroh nomor satu terbesar di tanah air. Yuk, kita simak obrolan bersama Bu Yus, disuat siang yang cerah dikantor Menara Salemba.

ditengah-tengah kesibukan menangani manajemen ARP, Bu Yus berkenan ‘diganggu’ sejenak untuk bercakap-cakap tentang konsep pemberdayaan umat ala ARP yang terbukti bergasil. Pembaca, sebagai informasi awal, pada tahun 2008 ARP baru mampu memberangkatkan 1263 jamaah dalam satu tahun. Begitu inovasi pemasaran ini dilakukan, setahun berkutnya jamulah jamaah mencapai lebih dari 2000 orang dan bertambah lagi mencapai 4500 orang pada tahun 2010. Kini, delapan tahun setelah konsep pemasan net working dijalankan, ARP berhasil memberangkatkan tidak kurang dari 30.000 jamaah!! Nah, tidak salah kan, kalau kita semua merasa penasaran. Konsep marketing seperti apa sih yang sudah dilakukan PT. Arminareka Perdana.

#1. MARKETING REVOLUSIONER

Apapun bisnisnya , sukses bisnis itu dimana-mana sama saja. Kalau mau maju, setidaknya harus ada tiga hal. Pertama, punya nilai tambah yang membedakan bisnis tersebut dengan bisnis lain yang sejenis. Kedua, pebisnis mampu menjual atau mau menjualkan usahanya secara professional. Ketiga, konsisten, punya komitmen untuk terus melakukan perbaikan. Tiga kunci tulah yang diterapkan oleh Arminareka Perdana.

Saat Arp bediri, sudah ada 200-an biro haji dan umroh, besar dan kecil. Sekarang malah sudah berkembang menjadi 700-an yang terdaftar secara resmi. ARP harus cerdas memilih cara untuk mengembangkan usahanya. Caranya adalah dengan membuat satu terobosan yang berbeda dengan teknik marketing yang ditempuh oleh biro umroh lainnya. Solusi cerdas yang dipilih adalah dalam bentuk network marketing. Dari sanalah kemudian dibuat konsep pemasaran dengan menggunakan prinsip-prinsip network marketing yang disesuaikan dengan tata cara meuamalh berdasarkan syariat Islam. Calon jama’ah diposisikan bukan hanya sebagai pengguna jasa pelayanan umroh dan hai, tetapi juga sebagi mitra yang membantu ARP memasarkan produknya

Direksi Arminareka Perdana

#2 : KONSEP PEMBERDAYAAN JAMA’AH

Sepertii telah diungkapkan sebelumnya, bisnnis yang sukses harus punya nilai tambah. Nilai tambah Arminareka Perdana salah satunya terletak pada sistem keitraan yang dijalan ARP dengan jama’ahnya. Melalui sistem kemitraan ini, siapapun yang terdaftar sebagai jama’ah maka sevara otomatis akan mendapatkan “hak usaha referensi”. Dengan hak usaha referensi ini, jama’ah dapat ikut serta dalam memasarkan Arminareka Perdana. Dengan menjadi agen pemasaran Arminarek Perdana, yaitu dengan mengajak calon jama’ah lain untuk berangkat haji/umroh, maka agen pemasaran akan mendapatkan komisi sebagai penghargaan atas upaya yang telah dilakukannya. Semakin banyak berhasil mendaftarkan jama’ah baru. Tentu semakin besar komisi yang diterimanya.

Sebetulnya, dalam dunia marketing, konsep seperti ini tidaklah aneh. Biro umroh lain juga menerapkannya. Ada yang menyebutnya sebagai jasa referensi, sistem komisi, atau member get member. Dalam syariat islam, tidak ada yang salah dengan sistem komisi. Komisi semacam ini terholong dalam Wakalah Ujrah (komisi perwakilan), yaitu komisi yang diterima karena sudah membantu penjualan barang/jasa dari pihak produsen. Hal ini sesuai dengan prinsip syariah, dimana setiap pihak mendapatkan keuntungan

Meskipun istilah yang digunakan adalah sama-sama komisi, namun istilah komisi yang berlaku di ARP, memiliki kekhasan dan kualitas tersendiri. Dimanakah letak keistimewaannya?

Pertama, ARP menyadari betapa banyak orang yang ingin berangkat umroh dan haji namun terkendala masalah biaya. Nah, sebagai solusinya, kami tawarkan hak usaha agar dapat menjadi solusi untuk mengatasi kendala biaya tersebut, dan akhirnya mereka bisa berangkat bersama dengan anggota keluarga yang lain. Namanya juga hak usaha, maka ada peluang penghasilan bagi masyarakat, yang diharapkan dapat menjadi ladang ekonomi yang baru.

Bu Yus, sebagai salah satu Direksi Arminareka Perdana;  memang tidak asal sebut. Ratusan jama’ah Arminareka Perdana dalam setiap kesempatan memperkuat pernyataannya. Tak terhitung betapa banyaknya orang yang sukses berhaji dan berumroh dengan memanfaatkan peluang ini. Bahkan, tidak sedikit jama’ah yang atas izin Allah dapat membalikkan nasib dan mengangkat mereka dari keterpurukan melalui peluang usaha yang ditawarkan oleh Arminareka Perdana. Ada yang berhasil melunasi hutangnya, ataupun hutang orang tuanya. Ada yang sukses memberangkatkan keluarga besarnya ke Mekkah. Tidak sedikit juga yang berhasil meningkatkan derajat perekonomiannya keluarganya : membeli rumah, mobil, menyekolahkan anak, memiliki persediaan tabungan untuk hari tua, sampai membangun masjid. Kisah sukses itu ada dimana-mana. Itu sebabnya, ARP menyebutnya hak usaha ini bukan semata-mata peluang bermitra . ARP menyebutnya dengan “konsep pemberdayaan jama’ah”

Kedua,menurut direksi arminareka perdana ini, nilai tambah Arminareka Perdana terletak pada komisi yang ditawarkannya. Berbeda dengan perusahaan sejenis yang menawarkan komisi yang sama, untuk urusan yang satu ini, Arminareka Perdana punya itung-itungan yang murah hati. Arminareka Perdana tidak ragu untuk memberikan komisi dalam berbagai skema. Mulai dari komisi langsung untuk setiap jama’ah terdaftar, ditambah komisi “berpasangan” untuk setiap pasangan jama’ah yang terdaftar dalam sistem, Dan bonus-bonus lainnya dalam bentuk “reward” jika mitra kita mampu mendaftarkan jama’ah baru dalam jumlah tertentu dan dalam periode tertentu. Dengan cara ini, jama’ah yang memanfaatkan hak usahanya mendapatkan return besar dalam waktu cepat. Usaha ini juga bisa dikatakan sebagai usaha “tanpa modal”. Cukup terdaftar sebagai jama’ah Arminareka Perdana, otomatis sang jama’ah sudah bisa melakukan syiar dengan cara mengajak saudara atau kenalannya untuk berangkat ke tanah suci.

Nah, itulah dua nilai tambah yang diberikan bagi jama’ah yang bermitra melalui konsep pemberdayaan jama’ah yang menjadi kunci sukses ARP. Pertama hak atau peluang usaha. Kedua, adanya beragam komisi dan bonus. Tidak salah jika visi misi Arminareka Perdana tidak sekedar “mengajak masyarakat untuk melaksanakan ibadah umroh dan Haji”, tetapi juga meningkatkan taraf hidup keluarga dan masyarakat serta memberikan solusi.

Nilai tambah lainnya tentu ada. Mulai dari fleksibilitas pemilihan tanggal keberangkatan, fasilitas akomodasi yang diberikan, sampai pada jaminan tanggung jawab atas penundaan keberangkatan maupun kepulangan jama’ah ke tempat masing-masing. ARP, memang luar biasa!

Hj. Riani Rilanda ST.

Direktur Marketing Arminareka Perdana

MENEPIS BERBAGAI ISU NEGATIF

Bukan sekali dua kali, jama’ah atau mitra ARP berhadapan dengan pertanyaan-pertanyaan yang bikin panas dingin pada saat OPP atau menawarkan produk. Misalnya, “Arminareka Perdana itu MLM ya? Kok boleh sih, haji dan umroh di-MLM-kan? Emang halal?”. Atau “yang jama’ahnya sedikit saja bolak-balik gagal berangkat. Apalagi yang jumlahnya ribuan gini?!” atau, “Mencicil? Sama aja dong dengan praktik mengumpulkan dana umat. Ilegal tuh!”

Nah, bagi Anda yang sudah kenal dengan sistem pemasaran Arminareka Perdana, ataus sudah lama bergabung, pertanyaan seperti ini mungkin sudah pernah didiskusikan sehingga bisa memberikan jawaban atau argumentasi yang tepat. Namun bagaimana dengan rekan-rekan yang baru bergabung atu tidak sempat berdiskusi dengan yang lain? Yuk simak ‘contekan’ berikut ini supaya kita bisa mengantisipasi pertanyaan tersebut.

#isu 1 : Arminareka Perdana vs MLM

Mentang-mentang sistemnya jaringan, maka Arminareka Perdana lantas dituduh ‘MLM’ alias Multi Level Marketing. Oke, mari kita perksa sama-sama apa itu MLM dan apa sebenarnya konsep pemberdayaan jama’ah melalui sistem referensi yang telah dijalankan oleh Arminareka Perdadna sejak tahun 2008

Pertama, bisnis MLM dijalankan dengan dasar ‘tutup point’. Anggota MLM diwajibkan atau dikenai target sejumlah point pada periode waktu tertentu. Pemenuhan target diistilahkan dengan tutup point, baru berhak mendapatkan bonus. Bagaimana jika target point itdak tercapai? Maka anggota MLM wajib berbelanja barang sejumlah tertentu, sehingga target point tercapai. Istilahnya “tutup point”.

Arminareka Perdana tidak mengenal istilah tutup point, tidak ada target. Semua diserahkan kepada mitra. Silahkan bersyiar sebanyak-banyaknya. Tapi tidak ada target yang ditetapkan oleh Arminareka perdana kepada mitranya.  Karena itu, di Arminareka perdana tidak ada yang namanya “tutup point”.

Kedua, produk MLM memiliki batasan waktu. Lewat dari batasan waktu tersebut, dinyatakan expired (kadaluarsa). Di Arminareka perdana tidak ada yang namanya batasan waktu. Pendaftaran dan keberangkatan bisa dilakukan kapan saja, tidak terikat waktu.

Ketiga, dalam MLM terdapat sistem karir berupa jenjang, pangkat atau posisi. Jenjang, pangkat atau posisi menentukan besaran prosentase yang bisa diraup dari downline atau anggota yang berada di bawah posisinya. Ini yang sering dirasa tidak adil karena bisa jadi downlin bekerja lebih keras dari pada upline-nya, namun upline yang ongkang-ongkang kaki menikmati kesuksesan sang downlin yang pontang panting menutp point atau mencapai target.

Arminareka perdana tidak mengenal sistem jenjang karir semacam itu. Semua jama’ah diperlakukan sama, baik jama’ah baru maupun jama’ah lama. Bagi yang ingin mengembangkan usaha dengan bermitra bersama Arminareka perdana, ada ‘konsultan’ yang siap membantu. Konsultan ini memberikan pendampingan usaha, tetapi tidak ada kaitannya dengan bonus yang dperoleh jama’ah kelak saat syiarnya berhasil.

Empat, dalam MLM, kerap posisi sebagai upline atau senior hanya menguntungkan bagi dirinya. Padahal yang bekerja keras adalah downline-nya. Ini gara-gara point yang tebagi antara senior dan yunior. Terasa tidak adil? Memang benar, sangat tidak adil, nah Arminareka perdana tidak menganut seistem semacam itu karena semua jama’ah posisinya setara. Manjadda wajad, siapa yang bekerja lebih keras, jelas akan mendapatkan hasil yang lebih banyak pula. Tidak jarang ada ‘junior’ yang mengalahkan pendapatan sang senior.

Lima, MLM memasarkan produk khusus yang tidak diperjualbelikan di pasar bebas. Semanetara jasa haji dan umroh bukan produk khusu. Semua travel haji dan umroh bisa menawarkan jasanya secara bebas.

Enam, harga pruduk MLM biasanya jauh lebih tinggi daripada produk sejinis di pasaran. Ini berbeda dengan biaya jasa umroh dan haji Arminareka perdana, yang relatif sama dengan harga pasaran, sesuai dengan fasilitas yang dipilih oleh jama’ah

# ISU 2 : ARMINAREKA PERDANA vs GAGAL BERANGKAT

Kesempurnaan itu milik Allah SWT. Sedangkan ketidaksempurnaan adalah fitrahnya manusia. Dengan sistemnya, Arminareka perdana telah mengantisipasi hal-hal yang  berpotensi menimbulkan ketidaknyamanan jama’ah. Misalnya saja seat pesawat, Arminareka Perdana telah mem-booking jauh-jauh hari armada pesawat untuk memberangkatkan jama’ah. Jadi, tidak ada ceritanya jama’ah gagal berangkat karana Arminareka Perdana tidak bisa menyewa pesawat. Booking pesawat sudah selesai urusannya. Bahkan sejak setahun sebelum perjalanan umrah / haji dilaksanakan. Dalam urusan penyewaan pesawat, Arminareka Perdana juga bukan termasuk pelanggan kelas kecil. Sejak tahun 2010 sampai saat ini, Garuda Arilines memberikan penghargaan kepada Arminareka Perdana sebagai travel biro nomor 1 yang memberangkatkan jama’ah terbanyak menggunakan pesawat garuda setiap tahunnya. Dengan frekuensi penerbangan setinggi itu, maka tidak heran jika kepercayaan terhadap Arminareka Perdana semakin kokoh. Hal ini berlaku untuk akomodasi lainnya, seperti hotel, catering, bis untuk membawa jama’ah, dan sebagainya.

Jadi, tidak ada ceritanya jama’ah gagal berangkat gara-gara tidak kebagian pesawat. Inysallah. Kalaupun kegagalan berangkat bisa saja terjadi, namun biasanya di Arminareka Perdana hal ini terjadi karena faktor yang berada diluar kontrol Arminareka Perdana. Midalnya saja visa jama’ah tidak keluar. Ini terjadi karena dokumen yang tidak lengkap atau ada kebijaka-kebijakan baru yang ditetapkan pemerintah Saudi mengenai pembatasan bisa, atau hal-hal lain yang secara plitis memang di luar kuasa Arminareka Perdana.

# ISU 3 : ARMINAREKA PERDANA vs PENGUMPULAN DANA UMAT

Arminareka Perdana menerapkan sistem ‘tabungan’ atau ‘cicilan’ bagi jama’ah yang belum mencukupi dananya untuk berumroh. Ini sesunggunya fasilitas yang disediakan Arminareka Perdana bagi jama’ah. Arminareka Perdana tidak membungakan atau memutar uang jama’ah yang digunakan sebagai cicilan. Jadi jelas, ini bukan praktik pengumpulan dana umat.

Dalam model praktik pengumpulan dana umat, lembaga pengumpulan ‘memutar’ kembali uang yang terkumpul sebagai modal usaha. Resikonya besar, jika usahanya tidak berhasil, maka dana umat pun akan berkurang, bahkan hilang. Suka atau tidak suka, nasabah turut memikul resiko tersebut. Ini berbeda dengan apa yang dilakukuan Arminareka Perdana. Tidak ada resiko yang dipikul jama’ah ketika menitipkan uangnya ke Arminareka Perdana. Karena pada dasarnya, Arminareka Perdana hanya memposisikan diri sebagai tempat penitipan uang.

Desas-desus yang dihembuskan pihak lain tentang Arminareka Perdana sebagai lembaga pengumpul dan umat, bisa dibuktikan benar-tidaknya dengan mengecek legalitas Arminareka Perdana.  Jika memang terbukti Arminareka Perdana melakukan praktik yang tidak sehat, maka lembaga seperti Otoritas Jasa Keuangan (OJK) atau pihak berwajib lainnya pasti telah sejak dalu menutup Arminareka Perdana. Kenyataannya, walaupun bukan hanya sekali dua kali diterpa oleh hoax alias berita rekayasa atau berita bohong, Arminareka Perdana tetap tegak berdiri bahkan jama’ahnya terus berkembang hingga bisa terus mempertahankan posisinya sebagai biro umroh dan haji nomor wahid di Indonesia.

Nah, itulah beberapa konsep Arminareka Perdana yang perlu kita ketahui. Semoga tambahan pengaetahuan ini dapat semakin memantapkan langkah kita dalam bersyiar baitullah, Aamiiin…